Sudah gelap kala itu. Seorang wanita muda dengan mengendarai sepeda motor matik dengan membonceng wanita paruh baya di belakangnya. Jamaah maghrib baru saja keluar masjid kira-kira lima belas menit yang lalu. Wajah yang tak asing sepertinya dikenal. Iya, memang dia adalah salah satu penerima PKH Desa Sambung Kecamatan Gajah. Wajah cerianya memelita di bawah sinar rembulan. Tak sedikitpun tampak raut sendu, muram, apalagi sedih dalam ronanya. Kukenal, dia adalah Sri Utami dengan sang anak yang dari obrolan ternyata mahasiswa Semester 2 Universitas Muria Kudus (UMK). Tanpa basa basi dia mengutarakan niat datang ke rumah kami. “Pak, saya ingin menyudahi bantuan PKH yang saya terima” ujar Sri Utami. Kaget bercampur haru menyeruak jadi satu. Kukenal dia hanya sosok sederhana yang jauh dari kesan glamor. Kediaman yang ia tempati meskipun sudah berlantai keramik tapi masih mencerminkan kesan sederhana.

Dia hanya seorang karyawan lepas salah satu perusahaan di Kota Kudus yang bergaji cukup. Sang suami merupakan seorang pekerja bangunan yang bekerja dari pagi sampai sore, berjibaku dengan panasnya mentari dan dinginnya air hujan. Namun penghasilan yang diterima tiap bulan diakui Utami sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga dan membayar biaya sekolah anak-anaknya; termasuk biaya kuliah anak sulungnya. Sepulang dari pabrik, dia masih bekerja membantu jualan warung sang adik yang berada di depan samping rumahnya. “Pokoknya hari-hari saya sangat padat kegiatan pak. Saya saja baru bisa lipat-lipat baju jemuran jam 10 malam” tambah Utami. Diakuinya, sang suami sangat berharap dia segera menanggalkan bantuan dari pemerintah. Dia tentu saja masih iba dengan tetangga sekitar yang keadaan ekonominya di bawahnya tetapi belum pernah merasakan bantuan PKH. Harapannya, bantuan yang ia tanggalkan bisa berguna bagi warga miskin lain kelak.

Sebuah keniscayaan memang. Dia menyayangkan hal ini. Lagi-lagi, regulasinya menghalangi hal ini. Tetapi saya menjanjikan akan memastikan tetangga yang dimaksud agar masuk dalam aplikasi data terpadu kesejahteraan sosial yang dikelola oleh operator desa. Aset lain yang ia miliki adalah sebidang tanah seperempat bouw. Tidak cukup luas memang tetapi lahan itu ia maksimalkan sehingga menghasilkan panen yang bisa mencukupi kebutuhan pangan mereka selama setahun ke depan.

Selamat Utami, jiwa besarmu telah mengalahkan egomu. Semoga lancar rizkimu bersimbah menaungi diri dan keluargamu. Selamat menikmati graduasi PKH, Indonesia butuh wanita berjiwa besar layaknya dirimu.

Kisah Inspiratif Graduasi Mandiri KPM PKH Desa Sambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *