
“Hal tersulit untuk dilakukan adalah meninggalkan zona nyamanmu. Tetapi, kamu harus melepaskan kehidupan yang kamu kenal dan mengambil risiko untuk menjalani kehidupan yang kamu impikan” (T. Arigo).
Ibu Nur Hayati (50) adalah satu diantara 92 orang Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Desa Sambung Kecamatan Gajah Kabupaten Demak Provinsi Jawa Tengah. Menjadi peserta, dengan No. Peserta : 201541000103765 sejak tahun 2015 membuatnya sangat berterima kasih telah mendapat bantuan pemerintah melalui Program Keluarga Sejahtera (PKH) Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Bukan hal mudah bagi sebagian orang untuk menanggalkan kenyamanan demi menggapai pencapaian lebih tinggi yang belum tentu membuat mereka kembali nyaman lagi. Dibutuhkan kemantapan hati; tekad dan kemauan keras untuk tidak terlena dengan zona nyaman yang mungkin saja menghambat diri untuk maju meraih impian yang kita rasakan.
Belajar dari Ibu Nur Hayati, belajar menjadikan sebuah kisah menjadi refleksi diri untuk selangkah lebih maju. Bukan perkara mudah, untuk memantapkan hati dan berbesar hati menyudahi bantuan yang beliau terima selama ini. Sebenarnya bisa saja dia “cari aman” dengan tidak menyatakan diri sudah tercukupi kehidupan ekonominya. Apalagi rumah yang dia tempati belum layak dikatakan mewah; biasa saja sebagaimana rumah tetangganya kebanyakan yang masih berbata mentah. Namun dengan kemauan besar diiringi harapan mulia untuk terentas dari kemiskinan dengan berucap basmalah dia berikrar diri mundur dari PKH; program pengentasan kemiskinan yag dicanangkan pemerintah kepada Pendamping Sosial Kecamatan Gajah (Mustaghfirin,M.Pd) pada hari Selasa tanggal 27 Juli 2021.
Menginjak usia yang kian menua tidak menghambat Ibu Nur Hayati dalam mencari peluang usaha dikehidupanya. Sudah setahunan ini Ibu Nur Hayati membuka usaha jasa pijat di rumahnya. Setiap hari minimal 3 (tiga) orang yang membutuhkan jasa pijatnya. Meskipun demikian dia tidak mematok tarif tertentu terkait usahanya tersebut. Semua itu Ibu Nur Hayati niatkan untuk membantu orang lain yang membutuhkan media penyembuhan karena penyakit ataupun keluhan yang mereka rasakan. Alhamdulillah banyak tetangga yang merasakan cocok dengan pijatannya. Langganan pijatnya sebagian besar bayi, anak kecil dan perempuan dewasa. “Alhamdulillah pak, bisa mencukupi kebutuhan harian kami yang sekarang hidup dengan bapaknya dan anak yang paling kecil.” timpal Hayati, yang sudah memiliki penghasilan tetap.
Selain itu, suaminya Ibu Nur Hayati yang seorang imam masjid di desa juga mendapat garapan sawah dari pemerintah desa sebanyak setengah bouw yang semakin memantapkan tekadnya untuk lulus dari kepesertaan PKH. Masih ada lagi rejeki yang dengan lapang Allah berikan kepada keluarga mereka. Si anak tengah yang sekarang bekerja di Korea tiap bulanya juga rutin memberikan uang untuk membiayai kebutuhan keluarga Ibu Nur Hayati.Subhanallah, ternyata masih juga ada kabar bahagia di balik duka pandemi. Masih juga ada asa di balik derita. Pandemi tidak mengajarkan kita untuk berdiam diri. Pndemi tidak membuat kita berputus diri. Jadikan pandemi sebuah motivasi. Motivasi untuk terus meningkat diri. Menuju kesejahteraan hidup yang hakiki.
Semoga menjadi inspirasi,
Semoga menjadi refleksi,
Sebuah narasi tentang graduasi di tengah pandemi.

